Secara Geografis Indonesia Rawan Gempa dan Tsunami

Khas

Secara geografis, banyak wilayah Indonesia rawan bencana alam. Salah satunya mengenai gempa dan tsunami. Peristiwa paling diingat ketika musibah itu melanda Aceh. Menelan banyak korban jiwa. Kejadian ini menjadi momentum masyarakat mengingat dahsyatnya kekuatan alam.

Kejadian ini pun seolah menjalar. Banyak wilayah secara berurutan mengalami gempa maupun tsunami. Seakan ada keterkaitan. Namun, pendapat itu justru menjadi perdebatan. Para ahli terus mendalami masalah ini dengan pelbagai penelitian.

Kepanikan baru-baru ini juga dirasakan warga di selatan Jawa Barat. Tepatnya di wilayah Tasikmalaya. Banyak warga panik. Hingga santer beredar kabar hoaks. Di tengah kepanikan kondisi ini justru semakin memperparah.

Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Mereka melihat bahwa gempa bumi dan tsunami sejatinya telah terjadi sejak awal terbentuknya Bumi ini. Siklus ini pun akan terus berulang (recurrent period) hingga waktu tak dapat ditentukan.

Berikut wawancara jurnalis merdeka.com Anisyah Al Faqir dengan Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Dr.Daryono S.Si., M.Si. Dia juga merupakan Vice President Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Divisi Science and Technology di Jakarta, Rabu pekan lalu.

Sejak terjadinya Gempa Aceh 2004, tahun-tahun berikutnya juga terjadi gempa besar di sepanjang Sumatera hingga Jawa. Apakah gempa tersebut saling berkaitan satu sama lain?

Adanya rentetan peristiwa gempa besar di sepanjang jalur gempa Sumatra hingga Jawa belum tentu saling berkaitan secara langsung, peristiwa gempa kuat tersebut terjadi disebabkan karena zona itu memang merupakan jalur gempa kuat yang dapat terjadi kapan saja. Kita masih sulit menjelaskan keterkaitan antar kejadian gempa besar, yang baru bisa adalah mengkaji peristiwa gempa secara spasial dan temporal.

Mengkaji perpindahan tegangan atau stress batuan masih sulit untuk dilakukan guna menjawab peristiwa migrasi gempa. Tetapi dalam konteks hubungan antara gempa utama (mainshock) dan gempa susulan (aftershocks) kita sudah dapat menjelaskan. Jika kerak Bumi mengalami patahan dan terjadi gempa maka batuan akan terdeformasi, sehingga untuk mengembalikan ke kondisi stabil butuh gaya lagi untuk menata batuan kembali yang telah terdeformasi. Maka gempa-gempa susulan merupakan proses batuan dalam rangka mencari stabilitas tektonik. Saat terjadi gempa besar, maka gempa susulan lazimnya akan terjadi tetapi kekuatannya umumnya cenderung akan semakin kecil.

Lantas pasca Gempa dan Tsunami Aceh 2004 ada kecenderungan semakin banyak terjadi gempa besar di wilayah Indonesia?

Saya tidak sepakat adanya pendapat yang menyebutkan bahwa setelah terjadi Gempa Aceh M9,2 di wilayah Indonesia semakin banyak terjadi gempa besar. Yang pasti sejak terjadinya gempa di Aceh, masyarakat kita lebih aware dengan peristiwa gempa dan tsunami. Ini sangat positif dalam konteks peningkatan kapasitas masyarakat melek bencana gempa dan tsunami. Terkadang kita memang harus dihadapkan kepada peristiwa besar supaya terbangun dan tersadar.

Sebetulnya sejak dahulu wilayah Indonesia sudah sering kali terjadi gempa kuat yang merusak dan memicu tsunami. Data katalog tsunami BMKG sudah mencatat bahwa kejadian tsunami di Indonesia sudah mencapai lebih dari 200 kejadian, tetapi mengapa istilah tsunami baru dikenal luas oleh masyarakat kita setelah terjadi megatsunami Aceh. Ada kecenderungan masyarakat kita memang mudah lupa dengan peristiwa gempa besar dan tsunami yang terjadi pada masa lalu.

Teknologi informasi yang belum berkembang pada masa lalu juga menjadi andil mengapa masyarakat kita masih asing dengan peristiwa tsunami yang terjadi. Sehingga jika ada berita tsunami tidak langsung tersebar dengan massif kemudian lupa.

Sebelum bencana Tsunami Aceh, kejadian tsunami sudah banyak terjadi, seperti Tsunami Flores 1992 yang menelan korban lebih dari 2.000 orang. Tsunami Banyuwangi 1994 juga menelan korban 215 orang, sementara tsunami Pangandaran 2006 menelan korban sebanyak 659 orang. Tampaknya kejadian itu pun belum cukup menjadikan warga kita membekas dan menjadi sebuah peringatan meski korban yang jatuh sudah cukup banyak.

Baru ketika terjadi Megatsunami Aceh 2004 yang menelan korban ratusan ribu orang, masyarakat kita seolah baru tersadar dan mengenal tsunami sebagai ancaman besar di sekitar kita. Adanya tayangan video tsunami dan gambar-gambar bencana tsunami Aceh yang tersebar luas ternyata sangat efektif dalam menyadarkan masyarakat kita. Termasuk kekurangan masyarakat kita dulu masih jarang mencatat peristiwa bencana besar, atau membuat prasasti untuk dijadikan pelajaran untuk anak cucunya.

Namun demikian patut disyukuri, nenek moyang sudah memiliki kearifan lokal terkait bencana masa lalu, Legenda Nyi Roro Kidul selalu berkaitan dengan peristiwa ombak besar. Memang belum pasti, tetapi tampaknya ada benang merah antara legenda ini dengan peristiwa tsunami besa yang mungkin pernah terjadi pada masa lalu. Masyarakat dulu tentunya belum dapat memahami peristiwa bencana secara ilmiah, sehingga mereka cenderung mengaitkannya dengan kekuatan supra natural setiap terjadi peristiwa alam yang luar biasa.

Hal yang sama juga terjadi di Yunani saat angkatan perang musuh digulung ombak besar saat mendarat di pantai. Sehingga masyarakat Yunani berterimakasih kepada Dewa Laut dan menganggapnya peristiwa itu sebagai pertolongan Dewa Laut Pseidon. Para ahli saat ini menduga bahwa apa yang terjadi di Yunani tersebut merupakan peristiwa tsunami besar. Pantai selatan Jawa dan Yunani sama-sama wilayah wilayah rawan tsunami karena berdekatan dengan sumber gempa di dasar laut yang mampu memicu tsunami.

Peristiwa tsunami memang sudah banyak terjadi di wilayah Indonesia. Tetapi peristiwa tsunami Aceh tampaknya menjadi tonggak masyarakat Indonesia untuk menjadi sadar akan bahaya tsunami. Tsunami Aceh juga menjadi awal dibangunnya Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) di BMKG untuk memberikan peringatan dini tsunami di wilayah Indonesia dan Samudra Hindia.

Pasca Tsunami Aceh, para pemimpin dunia berkumpul di Jakarta untuk memikirkan betapa pentingnya dibangun sistem peringatan dini di samudera Hindia. Sebab Tsunami Aceh tak hanya berdampak di wilayah Indonesia saja, tetapi juga negara-negara di tepi Samudra Hindia seperti Australia, Malaysia, Bangladesh, India, Myanmar, Thailand, Oman, Afrika timur, Madagaskar, Maladewa dan lain-lain. Negara-negara ini harus aman dari tsunami sehingga pembangunan peringatan dini tsunami sangat penting dan mendesak. Kalau di Samudera Pasifik kan sudah ada lebih awal, yaitu Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) yang berpusat di Hawaii dan Jepang juga punya sistem peringatan dini tsunami sendiri.

Sebernanya di mana sajakah zona sumber gempa yang memicu terjadinya tsunami?

Zona sumber gempa yang dapat memicu terjadinya tsunami di wilayah Indonesia mencakup semua wilayah sebelah barat Sumatera dari Aceh, Padang, Bengkulu, hingga Selat Sunda. Selanjutnya wilayah selatan Jawa, Bali, NTB hingga NTT. Wilayah ini berdekatan dengan zona subduksi yang merupakan sarang gempa besar pemicu tsunami. Selain itu, zona gempa yang rawan tsunami juga terdapat di Laut Banda, Maluku Utara, sulawesi utara dan wilayah utara Papua.

Wilayah Indonesia rawan gempa dan tsunami karena merupakan kawasan pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia. Konsekuensinya, wilayah Indonesia akan menjadi kawasan seismik aktif dan kompleks. Di wilayah ini mudah terbangun akumulasi medan tegangan atau stress kulit bumi yang suatu saat akan rilis energi yang dimanifestasikan sebagai peristiwa gempa besar.

Di samping zona sumber gempa subduksi lempeng di laut, di wilayah Indonesia juga banyak terdapat sumber gempa dari patahan-patahan aktif di daratan. Karena di samping lempeng tektonik itu menyusup, juga ada gaya mendorong, sehingga pada bagian-bagian bagian lemah di kerak benua akan terbentuk patahan.

Jadi sumber gempa itu ada 2, yaitu zona subduksi atau penyusupan lempeng dan aktivitas patahan atau sesar aktif. Sesar aktif ini juga dapat menghasilkan tsunami, seperti Sesar Naik Flores yang terdapat di utara Bali hingga Flores. Sesar aktif ini pernah memicu Gempa Flores pada 12 Desember 1992 yang memicu tsunami dahsyat.

Bagaimana dengan di Jakarta, wilayah ini sudah bebas dari potensi gempa bumi?

Kalau di wilayah Jakarta hingga saat ini memang belum ditemukan adanya patahan/sesar aktif. Tetapi di sekitarnya Jakarta ada,seperti Sesar Baribis, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri dan beberapa sesar aktif di wilayah Banten. Wilayah Jakarta juga relatif dekat dengan sumber gempa subduksi di selatan Jawa Barat dan Selat Sunda. Kalaupun terjadi guncangan gempa di Jakarta, itu efek dari gempa yang berpusat di luar Jakarta.

Tetapi Jakarta memiliki catatan gempa merusak. Gempa ini terjadi pada malam hari tanggal 4 dan 5 November 1699. Dampak gempa telah menimbulkan kerusakan parah di seluruh penjuru kota dan menyebabkan kerusakan besar pada gedung-gedung. Gempa ini juga menyebabkan kacaunya persediaan air akibat porak porandanya sistem pengaliran air di seluruh Batavia saat itu.

Bila gempa itu terulang lagi di Jakarta, apa dapat membahayakan gedung bertingkat?

Sangat berbahaya, karena dalam catatan sejarahnya, Jakarta juga pernah mengalami kerusakan akibat gempa tahun 1699. Jika gedung bertingkat dibangun tanpa standar aturan bangunan tahan gempa bumi tentu dapat mengalami kerusakan saat terjadi gempa kuat yang pusatnya di luar Jakarta. Apalagi wilayah Jakarta lahannya tersusun oleh material sedimen yang tebal dan lunak sehingga rentan terjadi vibrasi periode panjang (long periode vibration) yang sangat membahayakan gedung-gedung bertingkat.

Lantas bagaimana dengan potensi gempa Indonesia?

Dalam ilmu kegempaan atau seismologi, kita mengenal adanya teori recurrent periode atau periode pengulangan, bahwa tempat yang pernah terjadi gempa besar suatu saat itu akan terjadi lagi gempa kuat. Jadi peristiwa gempa kuat itu membentuk siklus, hanya periodisitasnya berbeda-beda antar wilayah. Jadi peristiwa gempa akan terus terjadi dan tidak akan berhenti sampai akhir dunia ini.

Peneliti dan pakar geologi asal Brigham Young University, Amerika Serikat, Profesor Ron Harris mengungkapkan Indonesia memiliki siklus gempa setiap 20 tahun sekali. Harris menyebut fase itu terbangun dari tidur. Banyaknya gempa sejak tahun 2004 di Aceh menunjukkan Indonesia tengah berada di fase bangun. Bagaimana menurut Anda?

Pendapat itu masih pro dan kontra. Kalau saya pribadi tidak terlalu yakin dengan teori gempa ‘musiman’ seperti itu, karena gempa-gempa besar kami yakini tidak memiliki pola. Saya masih skeptis dengan teori itu.

Bagaimana BMKG menyikapi isu-isu liar seperti prediksi akan terjadinya gempa bumi besar di masyarakat?

Harus dipahami oleh masyarakat kita bahwa jika ada informasi tentang prediksi gempa bumi yang disertai dengan waktu kejadian, lokasinya hingga kekuatan gempanya, maka itu adalah hoax alias berita bohong. BMKG sendiri tidak pernah mengeluarkan informasi prediksi gempabumi semacam itu.

Tetapi BMKG akan terus memantau, mengolah, menganalisa, dan menyebarkan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Informasi gempa yang kita diseminasikan berupa parameter gempa yang mencakup: waktu gempa, kekuatan, lokasi pusat gempa (episenter) dan ke dalamannya.

Peringatan dini tsunami dapat kita keluarkan, karena peringatan dini tsunami berdasarkan gempa yang telah terjadi. Kejadian gempa tersebut dapat kita bisa analisa dan modelkan apakah berpotensi tsunami atau tidak. Tetapi kalau memprediksi kapan terjadinya gempa, maka kita belum bisa.

Perlu diketahui bahwa BMKG dalam mengeluarkan peringatan dini tsunami tidak berdasarkan ambang batas besaran magnitudo, kedalaman gempa, dan lokasi episenter, tetapi berdasarkan proposal database tsunami yang sudah ada dalam sistem pendukung keputusan (Decision Support System-DSS). Meskipun gempa berkekuatan M 6,9 jika DSS mengeluarkan proposal warning maka BMKG akan mengeluarkan peringatan dini tsunami.

Gempa bumi bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Namun mengapa saat terjadi gempa, masyarakat masih saja panik untuk menyelamatkan diri. Apakah hal tersebut berhubungan dengan pengetahuan masyarakat yang masih minim?

Saya tidak ingin menyalahkan masyarakat yang belum memahami dengan baik bagaimana cara menyelamatkan diri dari gempa bumi. Memang kita akui sosialisasi itu masih kurang sehingga sosialisasi mitigasi gempabumi ini menjadi tantangan bersama kita untuk terus lakukan secara berkesinambungan.

Masih banyak warga kita yang belum paham. Contohnya, kami sudah berulang-ulang di berbagai tempat dan kesempatan sudah dijelaskan sampai saat ini belum ada teknologi yang dengan akurat dapat memprediksi gempa: di mana, berapa kekuatan dan kapan terjadinya? Tetapi kenapa warga masih saja percaya dengan informasi hoax ramalan gempa, menyebarkannya, dan dibuat resah olehnya. Itu kan kebangetan, saya juga sedih karena masih banyak orang yang terus-menerus menanyakan apakah sudah ada alat untuk memprediksi gempa. Kita tidak akan lelah mengedukasi, saya yakin mereka satu saat akan memahami semua ini dengan baik.

Sekiranya apa saja yang perlu dipahami masyarakat mengenai gempa ini?

Ada kemungkinan pihak-pihak yang terkait dengan edukasi masyarakat memang belum maksimal atau memang sudah dilakukan sosialisasi dan edukasi tetapi masyarakatnya yang sulit untuk memahami, sehingga diperlukan metode yang lebih mudah dimengerti dan dipahami. Harapan saya masyarakat segera bangkit dan tercerahkan, menjadi masyarakat yang teredukasi bukan menjadi penikmat hoax.

Siapa yang paling bertanggungjawab terhadap edukasi masyarakat tentang pengetahuan kegempaan?

Tentu BMKG juga memiliki tanggung jawab ini. Ada bidang mitigasi di BMKG yang terlibat edukasi semacam ini, kemudian BNPB dan BPBD juga memiliki tugas itu. Kementerian PU-Pera bertugas memberikan arahan-arahan terkait bangunan agar tahan terhadap gempabumi, Perguruan Tinggi juga, termasuk Kementerian atau Lembaga terkait, juga LSM dan NGO.

Jadi sebenarnya semua pihak sudah sering melakukan sosialisasi dan edukasi itu. Idealnya edukasi dilakukan secara berkelanjutan. Namun karena keterbatasan dana, pada akhirnya dilakukan menyesuaikan dengan dana yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *